Selasa, 29 Desember 2009

cara ngajar yang punya outcome yang baik

CARA MENGAJAR YANG BISA MENBERIKAN SEMANGAT BERKREASI

OLEH : SUPRIYADI

Permasalahan?
Siswa/ peserta didik jenuh dan pasif dalam belajar? Kenapa bisa demikian? Itulah masalah substancial tulisan ini. Sebelum menentukan metoda yang baik perlu seorang guru mengidentifikasi factor penyebab kejenuhan. Factor inilah yang menyebabkan kurangnya kemampuan kreatifitas peserta didik

Identifikasi factor penyebab kurangnya minat kreasi peserta didik dan penangannya

Kejenuhan terhadap materi √°dalah hal yang manusiawi, padahal kurikulum kita menggunakan basis kompetensi, yang dalam hal ini keaktifan peserta didik sangat diharapkan. Munculnya kejenuhan hal ini dikarenakan sbb:

1. Penyampaian materi ajar kurang variatif dalam pemilihan media pembelajaran
2. Penghalang antara( intervening variables) diataranya: suasana kelas, gangguan lingkungan fisik dan sosial, perbedaan individual dan kondisi psikologis guru
3. Guru tidak hanya bisa ”ngomong” tapi juga bisa “ngemong”, diantaranya: sikap merasa tahu guru, kurangnya guru menerapkan segi aplikatif ilmu.
4. Kurang nya infrastruktur sekolah
5. Punishment dan reward sebagai mekanisme kontrol perilaku.
Pembahasanya sebagai berikut


1. Penyampaian materi ajar kurang variatif dalam pemilihan media pembelajaran. Dan guru kurang mampu menerjemahkan kurikulum kedalam proses pembelajaran. Model kurikulum yang lama yang lebih menekankan pada aspek kognisi ataupun learning to know, sedikit banyak masih bercokol di alam bawah sadar para guru. Peserta didik dipersonifikasikan sebagai wahana untuk diisi materi, yang mengakibatkan suasana KBM kurang menyenangkan.
Penangannya:
• Dalam penyampaian materi perlu ada penyesuaian media yang tepat untuk mendukung penyampaian pesan materi ke peserta didik. Komunikasi verbalistis juga harus didukung media yang lain seperti audio visual sebagai alat peraga.
• Menggunakan metoda pembelajaran yang cocok untuk setiap bab/meteri. Jika metode yang dipakai tanya jawab seorang guru harus bisa membuat jalan pembelajaran serius tapi menyenangkan. Artinya media yang dipakai entah itu fisik maupun non fisik yang dipakai atau dikombinasikan harus mampu membuat anak punya semagat untuk ingin tahu, aktif mengembangkan materi dan kreatif dalam menerapkan ilmu/ aplikatif. Ini bisa dilakukan guru yang mampu menerjemahkan kurikulum dalam kegiatan belajar mengajar.
2. Penghalang antara( intervening variables) yang tidak dijembatani oleh guru/pendidik. Sebuah interaksi ada komunikasi, inti komunikasi disana ada penyampaian pesan/ informasi. Pesan bisa diterima anak secara utuh maupun tidak, hal ini dikarenakan ada penghalang antar tersebut. Penghalang antar tersebut bisa berupa:
• suasan kelas yang tidak kondusif baik tata ruang maupun faktor pengkondisian oleh guru
• adanya gangguan karena faktor lingkungan fisik, misal kondisi sekolah di tempat keramaian, lingkungan sosial yang kurang mendukun misalnya sadang atau berada dalam keadaan bencana, banyak teror dll contoh: anak di daerah korban bencana butuh terapi dulu. Atau sekolah yang kena penggusuran lahan, mungkinkah dan nyamankah untuk belajar?
• perbedaan individu peserta didik. Ini kondisi wajar akan tetapi kalau guru kurang tanggap bisa berakibat fatal dalam memenej perbedaan yang terjadi. Contoh: anak punya perbedaan bakat dibidang mata pelajaran, perlu fasilitas untuk mengembangkanya. Contoh lain: ada kelas akselerasi bagi yang punya kemampuan lebih
• Kondisi psikologis guru itu sendiri, fase yang dilalaui guru berbeda saat pertama kali mulai terjun menjadi seorang guru.
Penangananya
Intervening variabels bisa kita identifikasi dan butuh kejelian guru memetakannya. Pesan/ informasi ini sangat penting kerena menyangkut substansi dari materi( logos). Jika penghalang antara berupa kondisi sbb:
• Tata ruang : guru bisa membuat ruang tidak monoton bisa diberi hiasan, gambar yang memberikan semangat dan menunjang KBM, diubah tata letak/ desain ruangnya agar tidak membosankan. Ini adalah rekayasa yang bisa kita lakukan hemat biaya. Hampir pasti mengubah gedung itu pilihan no sekian jika harus berhadapan efisiensi anggaran.
• a. Dalam linguistik ada istilah transformasi yang saya pahami mengacu proses perubahan dalam komunikasi dalam penerimaan informasi. Gangguan lingkungan fisik. Kondisi ini memang sangat berpengaruh kondisi cuaca panas, ruang kurang ventilasi ditambah lagi berada di temapat padat dan ramai dll. Bisa membuat anak terganggu konsentrasi. Gangguan lingkungan fisik ini sulit kita ganti, bisanya kita mengurangi atau memenejnya. Contoh saat guru menyampaikan materi tiba-tiba ada suara kereta sedang klason pajang, ini tentu menghambat atau mengurangi lancarnya pesan ke pendengaran peserta didik. Padahal antara bahasa dan makna ada pemahaman. Kalau dalam pembahasaan nya kita terhalang suara bising, tentu makna dan pemahaman peserta didik terganggu. Akibatnya harusnya informasi aslinya A bisa dipahami multi tafsir. Ini perlu di cermati guru kalau tidak maka tafsir informasi yang ada di benak siswa bisa bertentangan. Inilah yang saya mengacu hukum transformasi tersebut.Yang lain kalau misalnya panas cuaca kita bisa tanamkan pepohonan supaya suplai oksigen bisa membuat cuaca sejuk.
B. Lingkungan sosial; lingkungan yang tidak kondusif akibat perang, atau intimidasi dll, membuat KBM terganggu. Pihak sekolah harus membuat koordinasi untuk penanganan ini dengan pihak yang berkompeten.
• Perbedaan individual adalah hal yang pasti ada, karena individu peserta didik punya latar belakang yang beragam entah dari tingkat intelegensi, ekonomi, sosial budaya dll, dan juga lingkungan yang menbentuk mereka. Penyeragaman bukan solusi baik, tapi seharusnya kita hargai dan kita kembangkan bakat individual tadi dengan memberi fasilitas. Kelas akselerasi atau kelas unggulan misalnya, menurut saya bagus bisa mengakomodir dan meghargai perbedaan itu. Dalam ilmu itu tidak ada senior yang lebih dulu, yunior belakangan. Tapi siapa yang punya kompetensi dan cakap ilmu yang bisa di depan. Penyeragaman tentunya akan membuat siswa yang punya kemampuan lebih menjadi jenuh jika berada di kelas yang biasa. Jika sekolah memberlakukan kelas seperti ini artinya lebih akomodatif dan tidak membunuh karakter anak.
• Kondisi psikologis guru. Perlu adanya pembinaan mental bagi guru. Terkadang ada guru yang tidak percaya diri, emosi yang labil atau sikap pribadi dan sosial yan tidak konstruktif, membuat kerja guru tidak optimal. Maka perlu ada pembinaan yang cukup memadai tentang psikologi pembelajaran. Frustasi karena kurang memadainya materi yang dimilik, kuarang teranpil mendiagnosa materi maupun keadaan individu maupun kelas.
3. Guru harus bisa ”ngomong dan ngemong”. Ini adalah keharusan karena verbalisasi penting sebagai komunikasi utama dalam menyampaikan amanat pesan. ”ngemong” artinya seorang guru harus bisa menjaga peserta didik agar selalu terbimbing kedalam nilai yang baik, memberi teladan yang baik( transfer of value).
• TAHU itu HARUS dan MERASA TAHU itu harus HATI-HATI. Itu adalah kondisi dimana sebagai guru harus selalu meng up to date pengetahuan. Rasa ingin TAHU itu harus dimiliki oleh seluruh manusia, tapi MERASA TAHU itu harus berhati-hati karena dunia selalu mengalir kalau menurut plato sang filosof. Semua selalu berubah dan tugas kita selalu mempelajarinya, ketika kita ngomong ternyata itu sudah merupakan materi yang usang nah itulah makna berhati-hati.
• Perlu adanya keseimbangan antar segi implikatif dari ilmu. Terlalu bayak teori dan kurangnya contoh membuat materi kurang disenangi. Kesan BANYAK TEORI KURANG PRAKTIK bisa diminimalisir. Segi implikatif / aplikatif ilmu ini penting karena menghilangkan kesan ilmu itu abstrak. Perlunya guru menerapkan ilmu dalam contoh kongkrit ataupun mempraktikkan menjadi keharusan agar siswa dalam proses pemahamannya menjadi jelas. Kuangnya penerapan membuat persepsi siswa terhadap ilmu menjadi kurang aspek guna/ faedahnya. Ini perlu dihindari, hal ini membuat siswa males-malsan mempelajarinya.
4. Kurang nya infrastruktur sekolah yang memadai sebagai wahana apresiasi kegiatan siswa. Penangannya
• perlu sekolahan menyediakan infrastuktur pendukung yang bisa dimafaatkan siswa menyampaikan ide, gagasan, kreasi nya. Intinya kita tampung aspirasi dari siswa untuk kebaikan mereka dan sekolah. Guru dan sekolah disamping sebagai fasilitator juga motifator, peran guru memberikan semangat untuk berkreasi. Ini artinya segi aplikatif ilmu itu benar-benar harus di terapkan. Contoh guru harus bisa menunjukkan penerapan ilmu itu ke siswa.
5. Punishment dan reward; ini sebagai kontrol perilaku, dalam sosiologi termasuk jajaran ilmu bihavioralism. Pengulangan perilaku diakibatkan seseorang mampu memperkirakan kondisi kedepan. Artinya jika seorang tidak mengerjakan PR, di di hukum, maka kemungkinan sekali tindakan lalai PR itu diulangi, dan sebaliknya yang rajin dapatkan rewar atau penghargaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar