Rabu, 26 Agustus 2020

 

INDIVIDU, KELOMPOK, DAN HUBUNGAN SOSIAL

 

Hakikat Interaksi Sosial

 

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik berupa aksi saling mempengaruhi antarindividu, antara individu dan kelompok, dan antarkelompok. karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang butuh orang lain.

 

Gillin mendefinisikan interaksi sosial sebagai hubungan-hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan antarindividu, antara individu dan kelompok, atau antarkelompok.

hubungan sosial yang terjadi bisa mengarah pada hal yang positif misalkan kerjasama, ataupun juga bisa mengarah pada hal yang negatif misalkan konflik dan kekerasan. oleh karena itu ada rangsangan/stimulus dan respon yang dihasilkan dalam interaksi.

 dalam hubungan sosial perlu memperhatikan aturan interaksi

1. aturan ruang; dimana dia berinteraksi

2. aturan waktu; kapan dan dalam situasi apa dia berinteraksi

3. aturan gerak tubuh; perhatikan kinesika,mimik, micro expresion seseorang

 

 

2.            Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

 

Menurut Soerjono Soekanto, interaksi sosial tidak mungkin terjadi tanpa kontak sosial dan komunikasi.

Kontak Sosial

 

Kata “kontak” diturunkan dari Bahasa Latin: cum yang berarti bersama-sama dan tangere yang berarti menyentuh. Kontak sosial memiliki sifat-sifat sebagai berikut.

1.            Kontak sosial dapat bersifat positif atau negative. Kontak sosial positif mengarah pada kerjasama, sedangkan kontak sosial negative mengarah pada pertentangan atau konflik.

2.            Kontak sosial dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak sosial primer terjadi ketika para peserta interaksi bertatap muka secara langsung. Sementara itu, kontak sekunder terjadi ketika interaksi berlangsung melalui pelantara, misalnya percakapan melalui telepon.

 

 

Komunikasi

 

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.

 

 

Lima unsur pokok dalam komunikasi

 

1.            Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan pesan kepada pihak lain

2.            Komunikan, yaitu orang atau sekelompok orang yang menerima pesan

3.            Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator

4.            Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan

5.            Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapatkan pesan dari komunikator

 

Kontak sosial dapat terjadi tanpa komunikasi. Misalnya, seseorang berbicara dalam Bahasa Batak kepada orang yang hanya mengerti Bahasa Sunda. Dengan demikian kontak sosial tanpa komunikasi bukan merupakan interaksi sosial.

Secara umum, interaksi sosial dapat terjadi antarindividu, antara individu dan kelompok, serta antarkelompok. Interaksi sosial dapat bersifat positif maupun negative. Interaksi sosial positif artinya saling menguntungkan, sedangkan interaksi negative artinya merugikan salah satu pihak atau keduanya.

 

3. ciri ciri hubungan sosial/interaksi

a. pelakunya lebih dar 1 orang

b. ada komunikasi

c. ada tujuan yang ingin dicapai

d. ada dimensi waktu,

 

B.            Faktor-faktor Pendorong Interaksi Sosial

1. faktor internal yang berasal dari dalam diri

A. dorongan rasa aman sehingga butuh berkawan

b. dorongan untuk hidup bersama karena kita butuh orang lain

2. faktor eksternal yang berasal dari luar diri seseorang

Interaksi sosial dilandasi oleh beberapa faktor psikologis yaitu,

a.            Imitasi

Imitasi adalah tindakan meniru orang lain. Imitasi dapat dilakukan dalam bermacam-macam bentuk, misalnya gaya bicara, tingkah laku, adat dan kebisaaan, pola piker, serta apa saja yang dimiliki atau dilakukan oleh seseorang.

b.            Sugesti

 

Sugesti berlangsung ketika seseorang memberi pandangan atau pernyataan sikap yang dianutnya dan diterima oleh orang lain. Sugesti bisaanya muncul ketika si penerima sugesti tidak dapat berpikir rasional. Ia akan langsung menerima segala anjuran atau nasihat yang diberikan dan meyakini kebenarannya. Pada umumnya, sugesti berasal dari hal-hal berikut.

1.            Orang yang berwibawa, karismatik, atau memiliki pengaruh yang kuat terhadap penerima sugesti.

2.            Orang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari penerima sugesti

3.            Kelompok mayoritas terhadap minoritas

4.            Reklame atau iklan di media massa

 

Sugesti bukan hanya karena faktor si pemberi sugesti, tapi juga karena beberapa faktor di dalam diri si penerima sugesti.

1.            Terhambatnya daya berpikir kritis

2.            Kemampuan berpikir yang terpecah belah (disosiasi). Disosiasi terjadi ketika seseorang sedang dilanda kebingungan karena menghadapi berbagai persoalan

3.            Orang yang ragu-ragu dan pendapat satu arah.

c.             Identifikasi

 

Identifikasi merupakan kecendrungan atau keinginan seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan). Identifikasi bersifat lebih mendalam daripada imitasi karena dapat membentuk kepribadian seseorang.

d.            Simpati

 

Simpati merupakan kondisi ketertarikan seseorang kepada orang lain. Ketika bersimpati, seseorang menempatkan dirinya dalam keadaan orang lain dan merasakan apa yang dialami, dipikirkan, atau dirasakan orang lain

e.            Empati

 

Empati merupakan simpati mendalam yang dapat mempengaruhi kondisi fisik dan jiwa seseorang. Contohnya, seorang ibu yang ikut merasakan penderitaan anaknya yang mengidap kanker darah. Ibu tersebut sangat sedih sehingga ia pun jatuh sakit.

f . Motifasi

 pemberian dorongan dan arahan yang positif.

 

 

C.            Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

 

Hubungan antara Keteraturan Sosial dan Interaksi Sosial

 

Keteraturan sosial tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan oleh setiap warga. Keteraturan sosial merupakan hubungan yang selaras dan serasi antara interaksi sosial, nilai sosial, dan norma sosial. Artinya, hak dan kewajiban direalisasikan dengan nilai dan norma atau tata aturan yang berlaku. Keteraturan sosial bukanlah suatu keadaan statis karena masyarakat pada dasarnya bersifat dinamis, oleh karena itu harus senantiasa di usahakan.

Menurut proses terbentuknya, keteraturan sosial terjadi melalui tahap-tahap berikut.

 

1.            Tertib sosial (social order), yaitu suatu kondisi kehidupan masyarakat yang aman, dinamis, dan terat ditandai dengan setiap individu bertindak sesuai hak dan kewajibannya.

2.            Order yaitu sistem norma dan nilai sosial yang berkembang, diakui, dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat

3.            Keajegan yaitu suatu kondisi keteraturan yang tetap dan tidak berubah sebagai hasil dari hubungan antara tindakan, nilai, dan norma sosial yang berlangsung terus menerus.

4.            Pola yaitu corak hubungan yang tetap atau ajeg dalam interaksi sosial dan dijadikan model bagi semua anggota masyarakat atau kelompok. Pola dapat dicapai ketika keajegan tetap terpelihara atau teruji dalam berbagai situasi.

 

 

Tertib sosial warga Menghasilkan order (adat-istiadat), yaitu perilaku tertentu yang diikuti oleh hampir sebagian anggota masyarakat. Order ini kemudian menjadi keajegan dalam masyarakat. Keajegan dalam perilaku masyarakat tersebut kemudian menghasilkan pola. Akhirnya, terciptalah keteraturan sosial dalam kehidupan masyarakat.

 

Tahap-Tahap Menuju Keteraturan Sosial

 

 

                                tertib sosial-->orde--->keajegan--->pola---->keteraturan sosial

 

Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial

 

Menurut Gillin, interaksi sosial berlangsung dalam dua jenis proses sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif. Proses asosiatif mengarah pada persatuan atau integrasi sosial. Sebaliknya, proses disosiatif, yang disebut juga proses oposisi, cara melawan seseorang atau sekelompok orang demi meraih tujuan tertentu.

Proses Sosial yang Bersifat Asosiatif

 

Proses asosiatif meliputi bentuk-bentuk antara lain kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.

Kerja sama

 

Kerja sama didefinisikan sebagai usaha bersama antarindividu atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Menurut Charles H. Cooley, kerjasama timbul apabila seseorang menyadari dirinya mempunyai kepentingan atau tujuan yang sama dengan orang lain.

Berdasarkan pelaksanaannya, kerja sama memiliki lima bentuk.

 

1.            Kerukunan atau gotong royong

2.            Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang atau jasa antara dua organisasi atau lebih. Dalam bargaining prinsip keadilan sangat ditekankan

 

3.            Kooptasi, proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dan pelaksanaan politik organisasi sebagai satu-satunya cara menghindari konflik yang dapat mengguncang organisasi

4.            Koalisi, kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama

5.            Joint venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek tertentu

 

 

Selain itu bebeapa ahli juga membagi kerja sama dalam beberapa bentuk berikut

 

1.            Kerja sama spontan (kerja sama serta merta)

2.            Kerja sama langsung (hasil dari perintah atasan atau penguasa)

3.            Kerja sama kontrak (kerja sama atas dasar tertentu)

4.            Kerja sama tradisional (kerjasama sebagai bagian antarunsur dalam sistem sosial)

 

 

Akomodasi

 

Akomodasi memiliki dua pengertian, yakni sebagai keadaan dan sebagai proses. Akomodasi sebagai keadaan mengacu pada keseimbangan interaksi antarindividu atau antarkelompok berkaitan dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Akomodasi sebagai proses mengacu pada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan agar tercipta keseimbangan.

Akomodasi sebagai sebuah proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu:

 

1.            Koersi, yaitu bentuk akomodasi yang prosesnya melalui paksaan secara fisik maupun psikologis

2.            Kompromi, yaitu bentuk akomodasi ketika pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian

3.            Arbitrase, yaitu cara untuk mencapai kompromi apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak.

4.            Mediasi hampir menyerupai arbitrase. Dalam proses mediasi, kedudukan pihak ketiga hanya sebagai penasihat. Pihak ketiga tidak memiliki wewenang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah

5.            Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan pihak yang bertikai untuk mencapai kesepakatan.

6.            Toleransi, bentuk akomodasi yang terjadi tanpa persetujuan formal.

7.            Stalemate, terjadi ketika pihak-pihak yang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang hingga akhirnya kedua pihak menghentikan pertikaian tersebut.

8.            Ajudikasi, yaitu cara menyelesaikan masalah melalui pengadilan

9.            Segregasi, yaitu bentuk akomodasi ketika masing-masing pihak memisahkan diri dan saling menghindar untuk mengurangi ketegangan

10.          Eliminasi, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dalam konflik karena mengalah

11.          Subjugation atau domination, yaitu bentuk akomodasi ketika pihak yang kuat meminta pihak yang lebih lemah mentaatinya.

12.          Keputusan mayoritas, yaitu keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak dalam voting

13.          Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati oleh pihak minoritas

14.          Konversi, yaitu penyelesaian konflik ketika salah satu pihak bersedia mengalah dan mau menerima pendirian pihak lain

15.          Gencatan senjata, yaitu penundaan permusuhan dalam jangka waktu tertentu

 

 

Asimilasi

 

Asimilasi merupakan usaha mengurangi perbedaan antarindividu atau antarkelompok guna mencapai satu kesepakatan berdasarkan kepentingan dan tujuan bersama. Dalam asimilasi terjadi proses identifikasi diri dengan kepentingan dan tujuan kelompok. Apabila dua kelompok melakukan asimilasi, maka batas-batas antarkelompok akan hilang dan keduanya melebur menjadi satu kelompok yang baru.

 

A+B        =C

Akulturasi

 

Akulturasi adalah berpadunya dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri kepribadian masing-masing.

 

A+B        =AB

 

Proses sosial yang Bersifat Disosiatif

 

Proses sosial disosiatif atau oposisi dibedakan ke dalam tiga bentuk, yaitu persaingan, kontravensi, dan pertentangan.

Persaingan

 

Persaingan adalah perjuangan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tertentu. Salah satu ciri dari persaingan adalah perjuangan yang dilakukan secara damai dan sportif (fair play), artinya persaingan selalu menjungjung tinggi batasan dan aturan.

Kontravensi

 

Kontravensi pada hakikatnya merupakan bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai dengan ketidakpuasan seseorang, perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, dan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Kontravensi cenderung bersifat rahasia. Perang dingin merupakan salah satu contoh kontravensi karena tujuannya membuat lawan tidak tenang atau resah. Dalam hal ini lawan tidak diserang secara fisik tetapi secara psikologis.

Pertentangan

 

Pertentangan atau konflik adalah perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuan dengan cara menentang pihak lawan. Bisaanya, konflik disertai dengan ancaman atau kekerasan. Pertentangan tidak selalu bersifat negative. Pertentangan juga dapat menjadi alat untuk menyesuaikan norma-norma yang telah ada dengan kondisi baru yang sesuai dengan perkembangan masyarakat.

Pertentangan dapat pula menghasilkan kerja sama karena masing-masing pihak dapat saling berintrospeksi dan memperbaiki diri.

 

 

D.            Status dan Peran dalam Interaksi Sosial

 

Status dan peran seseorang mempengaruhi cara atau bentuk interaksi sosialnya. Status (kedudukan)

Merupakan posisi seseorang secara umum di mayarakat dalam hubungannya dengan orang lain.

Posisi seseorang menyangkut lingkungan pergaulannya, prestise, hak-hak dan kewajibannya. Menurut Ralf Linton, dalam kehidupan masyarakat terdapat tiga macam status:

1.            Ascribed status, merupakan status seseorang yang dicapai dengan sendirinya tanpa memperhatikan perbedaan rohaniah dan kemampuan. Status tersebut dapat diperoleh sejak lahir. contoh: gelar raden

2.            Achieved status, merupakan status yang diperoleh seseorang melalui usaha-usaha yang disengaja. Status ini tidak diperoleh atas dasar keturunan, akan tetapi tergantung pada kemampuan individu dalam mencapai tujuannya. Jenis status ini bersifat terbuka bagi siapa saja.contoh gelar sarjana

3.            Assigned status merupakan status yang diperoleh dari pemberian pihak lain. Assigned status berhubungan erat dengan achieved status. Artinya suatu kelompok atau golongan memberikan status yang lebih tinggi kepada seseorang yang berjasa. contoh: gelar pahlawan

 

 

Dalam kenyataan masyarakat, seseorang dapat mempunyai beberapa status. Bahkan dalam waktu bersamaan dia dapat menjalankan beberapa status sekaligus. Beragam status yang dimiliki seseorang tersebut dapat menimbulkan pertentangan atau konflik status (status conflik).

 

 

Peran

 

Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Peran adalah perilaku yang diharapkan oleh pihak lain terhadap seseorang dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya. Status dan peran tidak dapat dipisahkan karena tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran.

Sama seperti status, peran dapat dimiliki manusia sejak lahir atau diperoleh dari lingkungan sosial.

Peran-peran tersebut harus dilaksanakan sekaligus. Disinilah akan terjadi konflik peran.

 

 

Sumber

Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2014. Sosiologi 1:Kelompok Peminatan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta. Esis Erlangga

Muin, Idianto. 2014. Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X: Kelompok Peminatan Ilmu-ilmu Sosial. Erlangga.

Jakarta

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar